background

Saturday, August 16, 2014

Gara-gara Ada SMS, Laki-laki ini Tidak Jadi Bunuh Diri

DALAM sebuah kisah nyata yang baru-baru ini terjadi terdapat suatu kisah seorang laki-laki yang akan melakukan bunuh diri. Tapi, niat laki-laki tersebut tidak jadi terlaksana hanya gara-gara adanya sebuah pesan singkat (SMS). Kisah tersebut dilaporkan oleh salah satu media sosial pada hari Kamis, 23 Juni 2014 lalu.
Laki-laki itu gundah. Ia seperti kehilangan akal. Masalahnya terasa semakin berat, sementara semua jalan tampak buntu. Dalam kegalauannya yang memuncak, ia menyiapkan beberapa perlengkapan. Perlengkapan untuk lari dari semua masalahnya, dengan melakukan bunuh diri.
Tiba-tiba, sebuah SMS datang tepat pada detik-detik terakhir ia ingin bunuh diri.
“Apa kabar mas? Lama tak jumpa. Kangen,” demikian SMS itu.
Aneh, membaca SMS tersebut, keinginannya untuk bunuh diri tiba-tiba berkurang. Bahkan akhirnya ia sadar bahwa apa yang akan dilakukannya itu adalah sebuah kesalahan fatal.
Setelah membaca SMS itu, ia pun segera menelepon sang pengirim SMS. “Mas, hampir saja saya bunuh diri,” katanya sambil menangis. “Semua perlengkapan bunuh diri sudah saya siapkan. Gara-gara SMS dari mas Jamil, saya urungkan niat itu. Ternyata masih ada yang perhatian dan kangen sama saya.”
“Lelaki itu kini sudah berkeluarga,” kata Jamil Azzaini, sang pengirim SMS itu, yang tak lain adalah inspirator Sukses Mulia, “Bisnisnya juga terus tumbuh. Ia juga punya kebiasaan baru, berbagi ilmu kepada siapapun yang membutuhkan. Ia juga merasa happy menjalaninya. Banyak orang yang sudah terinspirasi melalui lelaki ini. Ternyata, satu kebaikan berbuah banyak kebaikan.”
“Jangan sepelekan kebaikan, walau mungkin tampak kecil,” pesan jamil Azzaini.
Jauh sebelumnya, 14 abad yang lalu, Rasulullah telah berpesan, “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya,” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi; shahih).
Senyum kepada orang lain, mungkin dianggap sebagai amalan sepele. Hanya membutuhkan gerakan 16 otot. Tetapi mungkin kita tidak sadar, senyuman itu menular. Menularkan kebahagiaan, menularkan keceriaan, menyejukkan hati, dan mengakrabkan. Jika jiwa sudah bahagia, jika hati sudah damai, kreativitas lebih mudah terlahirkan. Solusi-solusi atas masalah yang dihadapi pun berdatangan. Bahkan, sebelum datang solusi, terlebih dulu datang paradigma baru dalam memandang persoalan. Menjadi sabar, menjadi lebih arif, menjadi lebih bijaksana.
Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Bersedekahlah walau hanya dengan sebutir kurma.” Mungkin sebutir kurma kita anggap sepele, tetapi sesungguhnya pemberian itu adalah pancaran kebaikan. Aura kasih sayang. Inilah yang menimbulkan kecintaan dan kebahagiaan. Seperti pesan beliau, “Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian saling mencintai.”
Rasulullah juga mengingatkan umatnya untuk mengucap salam kepada sesama muslim, baik yang ia kenal maupun tidak ia kenal. Sebab salam adalah doa, salam juga ekspresi empati dan cinta. Salam dan sapa mengakrabkan. Amalan yang ringan, tetapi bisa jadi karena salam dan sapa kita, seseorang merasa mendapatkan perhatian. Merasa dirinya berharga. Merasa dirinya bernilai dan dibutuhkan. Bahkan bisa jadi, seseorang yang tadinya merasa putus asa kembali mendapatkan secercah harapan. Bahkan seperti temannya Jamil Azzaini tersebut, ia yang tadinya berniat bunuh diri akhirnya mengurungkan niatnya, dan berubah menjadi pribadi yang menemukan kembali semangat hidup dan kemudian bermanfaat bagi sesama. Bukankah pahalanya luar biasa? [rika/islampos/kisahikmah]

Thursday, August 14, 2014

Sudut Kecil Realita Orang Pendiam

Setiap hari manusia disibukan dengan berbagai aktivitas yang menyibukan. Para pekerja dan pelajar bergegas menyambut hari bersama mentari yang bersinar. Waktu yang panjang tak ubahnya seperti sekecil jarum jam yang bergerak teramat cepat. Orang-orang sibuk dengan pekerjaan dan urusannya masing-masing. Suatu saat ku lihat sekelompok orang tertawa bercanda dengan riangnya. Terlihat seorang anak disudut ruangan duduk manis sambil memandang orang-orang tersebut. Lama ku perhatikan, ternyata dia hanya duduk menyendiri dan tak ada yang menemaninya sebagai teman berbincang. Dari kejauhan ia terlihat tenang dan menikmati kesendiriannya sehingga aku pun mengira ia terlihat seperti tak ada beban dan hanya tersenyum tenang. Akan tetapi, tahukan kita bahwa orang-orang yang sering duduk sendiri atau terpisah dari orang banyak mereka lebih membutuhkan teman? Mereka bersikap tenang karena berusaha menyembunyikan ketidak mampuannya dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Nah, Sobat Sekalian! Apa sebenarnya hal-hal yang tersembunyi dibalik orang yang pendiam yang kebanyakan orang tidak ketahui?

Sekilas Tentang Orang Pendiam

Orang pendiam mempunyai banyak perbedaan dari kebanyakan orang terutama dalam hal kepribadiannya. Hal yang paling menonjol adalah mereka labih suka menyendiri dan tidak suka dengan keramaian. Pada umumnya meraka mempunya emosi yang agak labil. Itu sebabnya kenapa saat marah terkadang mereka lebih menyeramkan (kayak yang buas aja ya?/he2) dari pada yang lain walaupun sangat jarang ditemukan. Biasanya orang yang pendiam cenderung agak lama dalam hal mengambil keputusan untuk menentukan tindakan meskipun tidak menutup kemungkinan juga mereka lebih menonjol dalam suatu hal. Terkadang kita lihat ada teman kita yang harus berdiam terlebih dahulu sebelum berbicara atau bertindak.
Kenapa orang pendiam lebih suka menyendiri daripada bergaul dengan orang-orang? Ada beberapa alasan yang menyebabkannya. Pertama, terkadang mereka lebih nyaman ketika menyendiri karena biasanya orang pendiam tidak suka dengan keributan atau kebisingan. Tapi jangan salah, sekalipun menyukai kesendirian, mereka akan merasa diasingkan ketika sendiri dalam sebuah kelompok (jadi perhatikan temanmu ya). Yang kedua, pemikiran atau prinsip dapat melakukans suatu hal dengan kemampuan sendiri dan merasa tidak butuh orang lain akan mendorong seseorang untuk menyendiri. Percaya pada diri sendiri memang diperlukan, tapi ternyata tidak bagus juga jika terlalu berlebihan. Kemudian, seseorang tidak terlau aktif karena berusaha menutupi kekurangnya, baik itu karena tidak pandai berbicara atau sulit bergaul dengan orang lain. Akan tetapi terkadang ketika orang berdiam diri mungkin saja ia lebih memilih menjaga lisannya ketimbang mengucapkan hal yang tidak perlu. Meskipun hal-hal diatas terkesan sebagai kekurangan akan tetapi orang pendiam bukan berarti tidak mempunyai kelebihan.
Jika kita mau melihat lebih jauh, terdapat banyak kelebihan yang dimiliki orang-orang yang cenderung berdiam. Karena penggunaan otaknya lebih dipakai untuk merenung dan berpikir, biasanya mereka akan lebih bisa mengontrol kamampuannya dalam memilah mana yang benar dan mana yang salah. Selain itu, kamampuan berimajinasi akan menjadikan seseorang berjiwa seni tinggi karena biasanya mereka menuangkan pendapat/idenya melalui karya yang dihasilkannya, baik itu berupa lukisan (Tapi jangan melukis mahluk bernyawa ya), karya ilmiah atau yang lainnya. Orang pendiam biasanya lebih unggul dalam hal eksak yang membutuhkan pemikiran ketimbang berhubungan langsung dengan praktek dalam hal sosialisai.
Meskipun seseorang yang pendiam lebih suka menyendiri, tapi tahukah kita yang sebenarnya mereka butuhkan? Kita mungkin pernah melihat teman kita yang duduk sendirian jauh dari yang lain. Ia terlihat sangat tenang dan nampak menikmati kesendiriannya sehingga kitapun menjadi enggan untuk mendekatinya. Akan tetapi, pemikiran ini sepertinya harus agak di rubah.  Pada kenyataannya orang tersebut akan lebih senang jika kita hampiri dan temani. Apakah kita tahu kenapa? Mereka akan merasa diakui karena yang benar-benar mereka butuhkan adalah ….. “Teman”.
Semoga artikel ini bermanfaat baik bagi teman-teman yang kata nya “Pendiam” maupun teman-teman pada umumnya. Bagi yang merasa pendiam, semoga bisa semakin berbaur dengan yang lain dan dapat menciptakan karya-karya yang bermanfaat untuk orang lain. Dan untuk teman-teman yang lain, mudah-mudahan dapat semakin memperhatikan temannya.

Thursday, August 7, 2014

Sebelum Perang dengan Yahudi, Taklukkan dulu waktu Fajar..

Bagaimana seseorang akan menang melawan yahudi,sementara dirinya terkalahkan oleh fajar dengan kantuknya.

Rabu, 30 Juli 2014 06:39 WIB

Pengakuan Tentara Israel, Bangsa Yahudi Hancur Bila Hal Ini Terjadi

SEORANG ulama Pakistan Syeikh Maulana Tariq Jamil menyampaikan pengalaman dakwahnya ketika berdakwah di Negeri Yordania.

Ketika di Yordania, ia pergi ke daerah perbatasan Yordan-Israel. Sampai di daerah perbatasan, ketika rombongan Syeikh Maulana Tariq Jamil selesai menunaikan salat Subuh di salah satu masjid dekat perbatasan, tiba-tiba seorang tentara Israel dari luar melihat ke arah dalam Masjid.
Setelah melihat sebentar lalu tentara Israel itu langsung pergi.
Syeikh Maulana Tariq Jamil menghampiri tentara Israel itu dan bertanya, apa yang dia tadi lakukan.
“Saya hanya ingin melihat berapa jumlah orang Islam yang hadir salat Subuh di masjid,” kata tentara Israel itu.
Syeikh Maulana Tariq Jamil sambil keheranan bertanya, “kenapa?”
Si tentara Israel menjawab, “di dalam kitab kami (Kitab Taurat) ada tertulis, ‘Jika di seluruh dunia jumlah orang Islam yang hadir untuk salat Subuh berjamaah di masjid sama banyak dengan jumlah jamaah salat Jumat, maka saat itu Israel akan hancur. Tetapi ketika tadi saya lihat di masjid jumlah orang Islam yang datang untuk salat Subuh berjamaah masih sedikit, maka hati saya tenang, karena umat Islam pasti tidak akan bisa mengalahkan kami.”
Mendengar pembicaraan ini Syeikh Maulana Tariq Jamil sangat keheranan.
Seperti sudah diketahui bahwa salat Subuh adalah salat yang paling sulit ditunaikan. Karena subuh adalah saat masih gelap, dingin dan saat orang-orang sedang tidur. Jika salat Subuh dapat ditunaikan, maka salat lainnya pastilah akan mudah ditunaikan.
Orang Yahudi selalu berusaha dengan berbagai cara supaya umat Islam bisa meninggalkan salat lima waktunya. Karena orang Yahudi paham jika orang Islam meninggalkan kewajibannya ini, maka Allah SWT pasti tidak akan menolong umat Islam. Sehingga semua usaha umat Islam untuk membela Palestin selalu mengalami kegagalan.
Allahu alam bi shawwab.